Jumat, 19 Februari 2010

Perkara-perkara Yang Menyebabkan Dosa Kecil Menjadi BESAR


Perkara-perkara yang menyebabkan dosa kecil menjadi besar


Karena gunung yang besar berasal dari kerikil2 yang kecil
Terkadang kita menganggap remeh suatu hal yang kecil, tetapi kita tidak
sadar bahwa suatu yang yang kecil tersebut akan membawa bencana yang besar
bagi kita. Sebagaimana gunung yang besar itu ternyata terdiri dari
kerikil-kerikil yang kecil, demikian pula dosa yang besar itu bisa
disebabkan karena dosa kecil yang kita lakukan. Berikut ini adalah
beberapa perkara yang menyebabkan dosa kecil menjadi besar[1], wabillahit
taufiq

1. Berulang-ulang dan terus menerus dilakukan
Oleh sebab itulah, ada yang mengatakan bahwa tidak ada dosa kecil apabila
dilakukan terus menerus dan tidak ada dosa besar apabila diikuti dengan
istighfar.
Ampunan terhadap dosa besar yang dilakukan seorang hamba lebih mudah
daripada dosa kecil yang ia lakukan secara berkesinambungan.
Sama seperti air yang terus menerus menetes menimpa sebuah batu, bagaimana
pun kerasnya batu itu, lama-kelamaan tetesan-tetesan itu akan memberi bekas
padanya. Seandainya engkau mengumpulkan semua tetesan itu tadi, kemudian
menuangkannya pada batu itu sekaligus, tentu air itu tidak akan memberi
bekas sama sekali
Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
اَحَبُّ اْلأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَ إِنْ قَلَّ
"Amal-amal yang baik dan paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus
menerus walaupun sedikit." (HR. Bukhori [43] dan Muslim [782])
2. Menganggap remeh suatu dosa
Setiap kali seorang hamba menganggap besar suatu dosa maka semakin kecil
dosa tersebut disisi Allah ta'ala. Demikian sebaliknya, setiap kali seorang
hamba menganggap kecil suatu dosa, maka semakin besar dosa itu disisi Allah
ta'ala. Anggapan seseorang terhadap besarnya dosa kecil muncul karena
kebencian hati terhadap dosa dan keinginan untuk terus menerus menghindar
dari dosa tersebut. Suatu dosa menjadi besar bagi seorang mukmin karena ia
mengetahui keagungan Allah ta'ala. Apabila ia melihat sebagai dosa besar
baginya.
Dalam kitab shahihul Bukhori disebutkan dari hadits Anas radliyallahu'anhu:
"Sungguh kalian akan melakukan berbagai amal yang dalam pandangan kalian
amal-amal tersebut lebih rendah daripada rambut, sedangkan pada masa
Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam, kami menganggapnya sebagai salah
satu yang dapat membinasakan". (HR. Bukhori, 6492)
Bilal bin Sa'ad radliyallahu'anhu berkata: "Janganlah engkau melihat kecil
kemaksiatan yang engkau lakukan, tetapi lihatlah keagungan Dzat yang engkau
maksiati".[2]
Al-Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah berkata: "Setiap kali engkau menganggap
kecil suatu dosa maka ia menjadi besar di sisi Allah ta'ala. Sebaliknya,
setiap engkau menganggap besar suatu dosa maka ia menjadi kecil di sisi
Allah ta'ala."[3]
Selain mereka, al-Auza'i rahimahullah berkata: "Disebutkan bahwa yang
termasuk dosa besar adalah seseorang yang melakukan suatu dosa, kemudian ia
meremehkannya".[4]
3. Merasa bangga dengan kemaksiatan
Senang dengan kamaksiatan seperti kesenangannya melakukan kemaksiatan itu,
bahkan ia merasa bangga telah melakukannya. Sebagaimana dikatakan, misalnya:
'Tidakkah engkau lihat bagaimana aku mencabik-cabik kehormatan fulan dan
aku bongkar semua kejelekannya, sampai-sampai mukanya menjadi merah karena
malu'.
Semisal dengan itu pula perkataan seorang pedagang kepada yang lainnya:
'Tidakkah engkau lihat bagaimana aku menyiasati dan mengakalinya'.
Kalimat-kalimat seperti ini dan yang lainnya menjadikan suatu dosa kecil
menjadi besar. Setiap kali manisnya kemaksiatan mendominasi seorang hamba
maka semakin besar dan semakin agunglah pengaruhnya.
4. Tertipu dengan kebaikan Allah
Ada hamba yang tertipu dengan kebaikan Allah, perlindungan-Nya kepada hamba
dan penundaan-Nya terhadap hamba itu, sementara ia tidak mengetahui bahwa
bisa jadi hal itu merupakan kebencian-Nya, sehingga setiap kali hukumannya
ditunda maka semakin besar dosa yang dilakukannya.
Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda:
"Apabila engkau melihat Allah azza wa jalla memberikan seorang hamba setiap
kenikmatan dunia yang diinginkannya, padahal dia terus melakukan
kemaksiatan, maka ketahuilah bahwa hal itu adalah istidraj".(HR. Ahmad IV/
145)
Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: "Tidak seorangpun yang menceburkan
dirinya dalam kemaksiatan –sekecil apapun ia- kecuali ia akan mendapatkan
balasannya, cepat atau lambat.
Salah satu bentuk tipudaya-Nya adalah engkau melakukan kemaksiatan, namun
engkau melihatnya sebagai suatu kebaikan. Engkau mengira bahwa engkau sudah
dimaafkan dan dilupakan.
.. مَن يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَبِهِ.
"Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan
dengan kejahatan itu" (QS. An-Nisaa': 123)[5]
Beliau rahimahullah juga berkata: "Ketahuilah, salah satu bentuk ujian yang
paling besar adalah tertipunya seorang hamba dengan merasa aman dan selamat
dari adzab setelah ia melakukan dosa. Sesungguhnya balasan itu datang
kemudian. Salah satu balasan yang paling besar adalah ketidaktahuan
seseorang terhadap balasan itu, menganggap remeh terhadap agama, kebutaan
mata hati, dan ketidakmampuan dalam menentukan pilihan yang baik untuk
dirinya sendiri sehingga dapat mempengaruhi keselamatan badan dan timbulnya
kebosanan."[6]
Al-Ghazali rahimahullah berkata: "Ketahuilah bahwa tidak seorang pun yang
melakukan suatu dosa kecuali permukaan hatinya menjadi hitam. Apabila hamba
tu termasuk orang yang selamat (di akhirat), maka tampaklah noda hitam itu
pada permukaan hatinya agar ia dapat lari menghindarinya. Sebaliknya,
apabila ia termasuk seorang yang sengsara (di akhirat), maka noda hitam itu
pun tidak tampak pada dirinya sendiri sehingga ia tetap asyik melakukannya,
sampai ia masuk Neraka."[7]
5. Orang yang berdosa termasuk salah seorang yang dihormati (tokoh)
Apabila salah satu dosa itu berasal dari seorang tokoh, maka kedudukan dosa
tersebut besar disisi Allah sebab pengikutnya juga akan mengikuti dosa
tersebut. Jika orang itu mati, niscaya bahaya dosa itu masih tetap ada;
maka beruntunglah mereka yang meninggal dunia sedang dosa-dosanya pun mati
bersamanya. Oleh karena itu, mereka yang menjadi panutan orang banyak
hendaklah melakukan dua hal, yaitu meninggalkan dosa dan menyembunyikan
dosa apabila ia melakukannya.
Sebagaimana dosa-dosa orang tersebut bertambah karena kemaksiatan mereka
diikuti oleh para pengikutnya, maka demikian juga pahala dan kebaikan
mereka akan tambah karena perbuatan baik yang diikuti oleh para pengikutnya..
Allah ta'ala berfirman:
يَانِسَآءَ النَّبِيِّ مَن يَأْتِ مِنكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ
يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرًا
{30} وَمَن يَقْنُتْ مِنكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحًا
نُؤْتِهَآ أَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ وَأَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيمًا {31}
"Hai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan
keji yang nyata, niscaya akan di lipat gandakan siksaan kepada mereka dua
kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah. Dan barang siapa
diantara kamu sekalian (isteri-isteri Nabi) tetap taat kepada Allah dan
rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan
kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rizki yang
mulia." (QS. Al-Ahzab: 30-31)


Diposting di http://maramissetiawan.wordpress.com
Footnote
[1] Penjelasan ini dinukil dari buku "Cara Bertaubat Menurut al-Qur'an dan
as-Sunnah" karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, penerbit: pustakan
Imam Syafi'i cet. Pertama/ 2007, hlm. 169-173.
[2] Minhajul Qaashidiin, hlm. 282
[3] Dzammul Hawa karya Ibnul Jauzi, hlm. 184
[4] At-Taubah karya Ibnu Abid Dunya, hlm 78
[5] Shaidul khaathir (hlm. 313).
[6] Ibid. (hlm. 314-315)
[7] Ihyaa-u 'Uluumiddiin (IV/ 54)

--
You are subscribed to email updates from "Maramis's "NashirusSunnah Blog"."


Email delivery powered by Google.
Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610

0 tanggapan:

Posting Komentar

dipersilahkan untuk memberikan tanggapan, dengan memperhatikan adab sopan santun, dan ma'af jika saya tidak menampilkan komentar anda yang hanya ingin mengajak berdebat (kecuali jika memang perlu saya tanggapi akan saya berikan tanggapan) terima kasih