Senin, 10 Desember 2012

Jangan Mudah Mengumbar Lisan

Jangan Mudah Mengumbar Lisan

Alhamdulillah puji dan syukur kepada Allah سبحانه وتعالى  atas segala ni’mat dan karunia serta kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menyusun sebuah tulisan sederhana, dengan harapan mudah-mudahan apa yang saya tulis ini bermanfa’at buat kita semua terutama untuk saya sendiri, karena sebetulnya yang pantas untuk saya nasehati adalah diri saya pribadi sebelum orang lain,
Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم,
Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى   telah berwasiat kepada seluruh ummat manusia, baik ummat-ummat terdahulu maupun ummat akhir zaman dengan wasiat yang agung, yaitu agar mereka bertaqwa kepada Allah سبحانه وتعالى, sebagaimana firman Allah سبحانه وتعالى :
وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ ۚ 
dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah”[1]


Dan jika kita memperhatikan di dalam Al-Qur’an sangat banyak sekali ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk bertaqwa, seperti diantaranya firman Allah سبحانه وتعالى, yang sering kita baca atau kita dengar
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”[2]
Di ayat yang lain Allah سبحانه وتعالى  berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”[3]
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda dalam khutbahnya pada haji wada’
أوصيكم بتقوى اللَّه والسمع والطاعة وإن كان عبدا حبشيا ، فإنه من يعش منكم فسيرى إختلافا كثيرا فعليكم بسنتي وسنةِ الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجِذِ ، وإياكم ومحدثات الأمور ، فإن كل محدثة بِدعةٌ وكل بدعةٍ ضلالة
“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah mendengar dan ta’at (kepada pemerintah) walaupun (yang memerintah kalian) seorang budak dari Negri Habasyah, maka sesungguhnya orang yang hidup diantara kalian (setelahku nanti) akan melihat perselisihan yang banyak, maka hendaknya kalian berpegang dengan Sunnahku dan Sunnahnya para khulafa’ur rashidin yang terbimbing setelahku, berpegang teguhlah dengannya, gigitlah dengan gigi geraham, dan hendaknya kalian berhati-hati dengan perkara baru, karena setiap paerkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan”[4]
Dan juga misalnya ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم  berwasiat kepada mu’adz  رضى الله عنه
اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَة تَمْحُهَا وَخَالِق النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“bertaqwalah engkau kepada Allah dimanapun engkau berada, dan ikutilah perbuatan jelek dengan amal kebaikan niscaya akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik”[5]

Dan masih banyak lagi ayat-ayat dan hadits Nabi صلى الله عليه وسلم  lainnya yang memerintahkan kita agar bertaqwa kepada Allah سبحانه وتعالى, sehingga sudah cukup menjadi bukti atau dalil betapa pentingnya kedudukan taqwa bagi seorang hamba,
Oleh karena itulah Allah سبحانه وتعالى menjadikan barometer atau tolak ukur kemuliaan seorang hamba di sisi-Nya adalah sejauh mana atau seberapa besar ketaqwaannya kepada Allah سبحانه وتعالى, sebagaimana firman Allah سبحانه وتعالى yang insya’Allah sudah sama-sama kita hafal
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ 
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu”[6]
Dengan demikian marilah kita berusaha untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa,

Dan sebetulnya banyak sekali telah disebutkan baik di dalam Al-Qur’an maupun Hadits-hadits Nabi perkara-perkara yang seharusnya kita perhatikan yang dapat mengantarkan seseorang menjadi hamba yang bertaqwa,
Namun pada tulisan saya kali ini mungkin hanya akan saya angkat satu perkara saja agar supaya pembahasannya tidak terlalu panjang, dengan segala keterbatasan apa yang saya miliki dan sedikitnya ilmu yang saya ketahui, namun semoga dapat sama-sama kita pahami bersama,
Dan salah satu diantara perkara tersebut yang harus diperhatikan oleh seseorang yang menginginkan dirinya agar menjadi seorang hamba yang bertaqwa adalah hendaknya ia berusaha untuk menjaga lisannya, yaitu agar memperhatikan setiap apa yang ia ucapkan agar selalu berkata yang baik dan berusaha menghindari ucapan buruk atau kotor, dengan kata lain seperti judul yang saya buat dalam tulisan ini Jangan Mudah Mengumbar Lisan
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar”[7]
Asy-Syaikh As-Sa’dy  berkata dalam kitab tafsirnya:
ومن القول السديد، لين الكلام ولطفه، في مخاطبة الأنام، والقول المتضمن للنصح والإشارة، بما هو الأصلح
Dan diantara yang termasuk al-qaulus sadid (perkataan yang baik) adalah: berkata lemah lembut dan santun ketika berbicara kepada manusia, dan juga perkataan yang mengandung nasehat, dan isyarat untuk kebaikan[8]
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.”[9]

Mengapa kita diperintahkan untuk menjaga lisan..?
Karena tidak dipungkiri lagi bahwa kebanyakan kesalahan yang diperbuat manusia dilakukan oleh lisannya,
Rasulullah صلى الله عليه وسل bersabda:
أَكْثَرُ خَطَايَا إِبْنِ آدَمَ فِي لِسَانِهِ
“Mayoritas kesalahan anak Adam adalah pada lidahnya (lisannya)[10]
Beliau صلى الله عليه وسلم juga bersabda:
إنَّ العبدَ ليتكلَّم بالكلمة ما يتبيَّن ما فيها، يهوي بها في النار أبعدَ ما بين المشرق والمغرب
“Sesungguhnya seorang hamba akan berkata dengan satu kalimat yang tidak ia perhatikan apa yang ada dalam kalimat tersebut, yang akan menjerumuskannya ke dalam neraka yang jauhnya antara timur dan barat”[11]

Dan telah terbukti di tengah-tengah masyarakat, banyak sekali kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh lisan, begitu ringannya seseorang mengghibah saudaranya, mengadu domba, mencaci maki, mengumpat, dan begitu mudahnya memfitnah orang lain, serta kesalahan-kesalahan lain, yang semuanya itu telah dilarang dalam Syari’at Islam,
Seperti misalnya disebutkan dalam Al-Qur’an agar kita jangan sampai berbuat demikian, Allah سبحانه وتعالى berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah sebagian kalian menggunjingkan (ghibah) sebagian yang lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”[12]
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
“Tahukah kalian apa itu ghibah?”, Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda, “Yaitu engkau menceritakan tentang saudaramu yang membuatnya tidak suka.” Lalu ditanyakan kepada beliau, “Lalu bagaimana apabila pada diri saudara saya itu kenyataannya sebagaimana yang saya ungkapkan?” Maka beliau bersabda, “Apabila cerita yang engkau katakan itu sesuai dengan kenyataan maka engkau telah meng-ghibahinya. Dan apabila ternyata tidak sesuai dengan kenyataan dirinya maka engkau telah berdusta atas namanya (berbuat buhtan).”[13]
Padahal seorang muslim itu hendaknya muslim yang lain merasa aman darinya, sebagaimana sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم  :
المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Muslim itu adalah seseorang yang muslim yang lain aman dari lisan dan tangannya”[14]
Artinya bahwa seorang muslim itu tidak akan pernah mengganggu saudaranya baik dengan ucapan maupun tangannya, dia akan berusaha agar jangan sampai menyakiti saudaranya, sehingga saudaranya pun merasa aman darinya,
Namun kenyataan yang terjadi banyak yang mengaku muslim namun masih suka mencela saudaranya, menggunjing orang lain, menuduh sembarangan tanpa bukti, bersumpah palsu, dan kesalahan-kesalahan lain yang dilakukan oleh lisan yang sering kita jumpai di tengah-tengah masyarakat yang kebanyakan karena memang mereka belum memahami Syari’at, sehingga terjadilah penyimpangan-penyimpangan dalam masalah lisan ini,
Melihat kenyataan tersebut semestinya kita berusaha untuk berhati-hati agar jangan sampai melakukan hal tersebut, dengan cara mempelajari Syari’at Islam ini dengan benar, karena hanya dengan belajarlah kita bisa mengetahui apa yang seharusnya kita amalkan dan mengetauhi apa saja yang menjadi larangan-larangan Allah سبحانه وتعالى,
Dan saya rasa sudah cukup banyak artikel-artikel yang membahas tentang kesalahan-kesalahan lisan dan bahayanya, dengan demikian tidak perlu saya bahas kembali, namun yang ingin saya tekankan dalam tulisan saya ini hanyalah sebatas bagaimana usaha kita untuk menjaga lisan kita ini, agar selalu berkata benar, bertutur kata yang baik, dan menghindari ucapan-ucapan buruk serta kotor yang dapat menyakiti orang lain serta mengundang kemurkaan Allah سبحانه وتعالى,

Berkaitan dengan hal tersebut untuk motifasi diri kita terutama saya pribadi agar senantiasa terdorong untuk selalu menjaga lisan kapan pun dan dimana pun kita berada, untuk itu mari kita perhatikan Sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم :
لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ وَلَا يَدْخُلُ رَجُلٌ الْجَنَّةَ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
“Iman seorang hamba tidak akan istiqamah, sehingga hatinya istiqamah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqamah, sehingga lisannya istiqamah. Dan tidak akan masuk surga seseorang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya”[15]
Di hadits yang lain Beliau صلى الله عليه وسلم  bersabda:
إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا
“Jika anak Adam memasuki pagi hari sesungguhnya semua anggota badannya berkata merendah kepada lisan, “Takwalah kepada Allah di dalam menjaga hak-hak kami, sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Jika engkau istiqamah, maka kami juga istiqamah, jika engkau menyimpang (dari jalan petunjuk), kami juga menyimpang”[16]
Sehingga pantaslah jika Rasulullah صلى الله عليه وسلم  menjanjikan Surga bagi siapa saja yang berusaha dan mampu menjaga lisannya, seperti dalam sabda Beliau صلى الله عليه وسلم :
مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
“Siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga baginya[17]

Maka dengan demikian setelah kita mengetauhui beberapa dalil yang saya sebutkan di atas (walaupun hanya beberapa saja namun mudah-mudahan sudah cukup mewakili), maka tidak ada yang pantas untuk kita penjarakan secara berkepanjangan selain dari lisan kita, sebagaimana perkataan  salah seorang Shahabat yang mulia yang bernama Ibnu Mas’ud رضى الله عنهما beliau berkata:
مَا شَيْءَ أحْوَجُ إلَى طوْلِ سِجْنٍ مِنْ لِسَانِي
“Tidak ada sesuatu yang pantas untuk aku penjarakan secara berkepanjangan selain dari pada lisanku”[18]
 Di kesempatan yang lain Beliau رضى الله عنهما juga berkata:
إيَاكُمْ وَ فُضُوْلُ الكَلامِ حَسْبَ امْرِئٍ مَا بَلَغَ حَاجَتُهُ
“Jauhilah oleh kalian berlebih-lebihan dalam berbicara, sudah cukup seseorang itu (berbicara) setelah terpenuhi kebutuhannya”[19]
Dan perhatikan pula perkataan para Salaf yang lain
Samit bin ‘Ajlan رحمه الله تعالى berkata
يا ابْنَ آدَم إنَّكَ مَا سَكَتَ فَأنْتَ سَالِمٌ فَإذا تَكلّمْتَ فَخُذْ حَذْرَكَ إمَّا لكَ وَ إمَّا عَليْكَ
“Wahai anak Adam, sesungguhnya selama engkau diam maka engkau akan selamat, maka jika engkau berbicara hendaknya berhati-hatilah, karena perkataan itu bisa jadi akan menjadi penolongmu atau bisa jadi malah menjadi bumerang bagimu”[20]
Abdullah bin Mu’taz رحمه الله تعالى berkata:
إذَا تَمَّ العَقْلُ نَقَصَ الكَلَامُ
“Jika akal seseorang itu sempurna maka dia tidak akan banyak bicara”[21]

Demikian ya ikhwan apa yang bisa saya tulis, semoga yang sedikit ini bermanfa’at terutama buat saya pribadi agar lebih berhati-hati dalam menjaga lisan, mohon ma’af jika ada kekurangan dan kesalahan, segala yang benar datangnya dari Allah سبحانه وتعالى  dan yang salah adalah dari saya dan syaithan, tidak lupa mohon kritik dan sarannya jika memang ada yang perlu diperbaiki, atau mungkin ada tambahan agar dapat lebih memberikan manfa’at yang banyak buat kita semua insya’Allah.

Ditulis di Bumi Cileungsi
Pada Tanggal 27 Muharam 1434 H, bertepatan dengan 10 Desember 2012 M
Saudara Antum yang mencintai Antum karena Allah
Abu Hanifah ‘Alim bin Iryani Heri Atmaja bin Martadimulya bin Mangunharja bin Mangun Ali Mudi Mangun Negara Al-Bantuliy



[1] Surat An-Nisa : Ayat-131
[2] Surat Ali Imran : Ayat-102
[3] Surat An-Nisa : Ayat-200
[4]Hadits Riwayat Abu Dawud, Ahmad, dan yang lainnya صحيح - رواه أبو داود كتاب السنة (4 / 200) (رقم : 4607) ، وأحمد (4 / 126- 127) ، والآجري في الشريعة ، (ص 46) ، وابن أبي عاصم في " كتاب السنة " (1 / 19) (رقم : 32 ، 57) مختصرا ، وابن حبان (1 / 178) (رقم : 5) كلهم من طريق الوليد بن مسلم حدثنا ثور بن يزيد حدثني خالد بن معدان حدثني عبد الرحمن بن عمرو السلمي وحجر بن حجْر عن العرباض
[5] Hadits Riwayat At-Tirmidzy رواه الترمذي وقال : حسن صحيح.
[6] Surat Al-Hujurat : Ayat-13
[7] Surat Al-Ahzab : Ayat-70-71
[8] Taisir Al-Karim Ar-Rahman
[9] Hadits Riwayat Al-Bukhari (no. 6475) dan Muslim (no. 47), dari Abu Hurairah  رضى الله عنه
[10] Hadits Riwayat Thabarani, Ibnu ‘Asakir, dan lainnya. Lihat Silsilah Ash-Shahihah, no. 534
[11] Hadits Riwayat Al-Bukhari وروى البخاري في صحيحه (6477) ومسلم في صحيحه (2988)، واللفظُ لمسلم عن أبي هريرة  
[12] Surat Al-Hujuuraat: Ayat-12
[13] Hadits Riwayat Muslim. 4/2001. Dinukil dari Nashihatii lin Nisaa’, hal. 26
[14] Hadits Riwayat Al-Bukhary رواه البخاري في كتاب الإيمان ، باب المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده ، واللفظ له ، ومسلم في صحيحه في كتاب الإيمان ، حديث : 39
[15] Hadits Riwayat Ahmad, no. 12636, dihasankan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin, 3/13
[16] Hadits Riwayat Tirmidzi, no. 2407; dihasankan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin, 3/17, no. 1521) (Jami’ul ‘Uluum wal Hikam, 1/511-512
[17] Hadits Riwayat Al-Bukhari, no. 6474; Tirmidzi, no. 2408; lafazh bagi Bukhari
[18] Mukhtashar Minhajul Qashidin, hal.155
[19] Jami’ul Ulum wal Hikam, hal.134
[20] Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 135
[21] Madarijus Salikin, II/52

8 tanggapan:

weather station mengatakan...

nice article gan, ane suka banget ceritanya

HelmyS mengatakan...

Memang susah menjaga lisan terutama pengaruh lingkungan yang kadang memaksa untuk berbicara hal yang sia-sia, bicara yang 'sia-sia' buat dosa tapi jika diam terus kadang dikatakan sombong. . hmm

Abu Hanifah Alim mengatakan...

@weather station
trima kasih.. atas atensinya

@HelmyS
jalan keluarnya adalah berbicara seperlunya saja..
tidak terlalu mengumbar bicara dan juga tidak terlalu diam..
seperti kata Ibnu Mas'ud diatas
إيَاكُمْ وَ فُضُوْلُ الكَلامِ حَسْبَ امْرِئٍ مَا بَلَغَ حَاجَتُهُ
“Jauhilah oleh kalian berlebih-lebihan dalam berbicara, sudah cukup seseorang itu (berbicara) setelah terpenuhi kebutuhannya”
wallahu a'lam

Digital Areas mengatakan...

hal ini nih yang paling susah buat aku jaga..
btw, nice artikel dah sobb !!

Abu Hanifah Alim mengatakan...

@Digital Areas
susah mungkin karena belum terbiasa untuk menjaganya..
seperti halnya maksiat yang lain, ketika manusia sudah terbiasa dengan maksiat maka ketika hendak meninggalkannya pun ia akan merasa berat..
namun jika ia berusaha meninggalkannya sedikit demi sedikit maka tentu lambat laun tidak akan berat lagi meninggalkan maksiat tersebut..
wallahu a'lam
btw terima kasih kunjungannya..

Membuat Mie Ayam mengatakan...

mulutmu harimaumu. lidah itu lebih tajam dari pisau

daftarhargagf188 mengatakan...

terima kasih senang sekali berkunjung kesini

Abu Hanifah Alim mengatakan...

@Membuat Mie Ayam
betul sekali..
terluka karena sayatan pisau mungkin akan lebih cepat sembuh dari pada hati tersayat lisan yang tidak terkendali

@daftarhargagf188
terima kasih juga atas kunjungannya
semoga apa yang saya sajikan dapat diambil faedahnya

Posting Komentar

dipersilahkan untuk memberikan tanggapan, dengan memperhatikan adab sopan santun, dan ma'af jika saya tidak menampilkan komentar anda yang hanya ingin mengajak berdebat (kecuali jika memang perlu saya tanggapi akan saya berikan tanggapan) terima kasih