Sabtu, 26 Januari 2013

Jangan Sotoy...!

Jangan Sotoy...!

Bismillah..
Dengan menyebut Asma Allah سبحانه وتعالى  saya memulai tulisan ini dengan mengharap rahmat dan redha Allah سبحانه وتعالى
Alhamdulillah segala puji hanya milik Allah سبحانه وتعالى  atas segala ni’mat yang Allah سبحانه وتعالى  karuniakan kepada kita, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم    dan keluarga Beliau, para shahabat, serta ummatnya yang senantiasa selalu mengikuti sunnah-sunnahnya dengan baik.
Sengaja saya menulis risalah ini dengan judul “Jangan Sotoy...!” sekedar mengingatkan diri saya sendiri dan saudara-saudara saya yang berkesempatan membaca tulisan saya ini, mengingat betapa pentingnya untuk kita bahas, dalam rangka untuk saling memberikan wasiat.
Saya tertarik menulis risalah ini berawal dari sebuah kalimat yang berbunyi “Saya Tidak Tau”
Sebuah kalimat yang sangat berat diucapkan oleh seseorang yang cinta popularitas atau mungkin juga orang bodoh tapi sok tau alias merasa pintar, ketika ditanya tentang suatu permasalahan kemudian ia berusaha menjawab dengan kebodohannya, dan malu untuk mengakui ketidak tauannya dengan berkata “Saya Tidak Tau”, namun dia berusaha menutupi kebodohan dengan kebodohan, memaksakan diri untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya (padahal tidak mengetahui ilmunya)

Kalau memang tidak tau kenapa harus malu untuk mengatakan “Saya Tidak Tau” ?
Atau karena ingin menunjukkan diri agar orang lain menganggap dirinya orang yang berilmu ?
Atau takut harga dirinya jatuh hanya karena mengucapkan kalimat tersebut ?
Atau alasan-alasan lain yang ia sembunyikan dalam hatinya dengan kedok menjawab semua pertanyaan yang diajukan kepadanya walaupun harus menjawab dengan tanpa ilmu alias “Sok Tau”

Pembaca yang dimuliakan Allah سبحانه وتعالى
Bahwa Syari’at Islam sangat mencela dan melarang seseorang berbicara tanpa ilmu
Allah سبحانه وتعالى  berfirman:
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْىَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ
Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu)[1]
Perhatikan pula firman Allah سبحانه وتعالى  :
وَلاَ تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلاَلٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung[2]
Allah سبحانه وتعالى  juga berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya [3]
Dalam sebuah ungkapan Arab dikatakan
فاقِدُ الشيء لا يُعْطِيه
Orang yang tidak memiliki sesuatu maka dia tidak bisa memberikan apa-apa[4]
Bagaimana mungkin seseorang yang tidak memiliki ilmu akan bisa memberi ilmu ? tidak mungkin.
Untuk itulah Al-Imam Al-Bukhary رحمه الله تعالى  menulis sebuah Bab dalam kitab Shahihnya
 باب العلم قبل القول والعمل
 “Bab ilmu sebelum berkata dan beramal”
Bahwa Beliau mengisyaratkan betapa pentingnya ilmu bagi seorang hamba di dalam kehidupannya

Lalu apa yang dimaksud dengan ilmu ?
Yang dimaksud dengan ilmu disini adalah dalil, baik dari Al-Qur’an maupun hadits Nabi صلى الله عليه وسلم    . Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim al-Harrani رحمه الله تعالى mengatakan:
العِلمَ مَا قَامَ عَلَيْهِ الدَّلِيلُ وَالنَّافِعُ مِنْهُ مَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ
“Ilmu adalah apa-apa yang berdiri diatas dalil (sesuatu yang berdasarkan dalil), sedangkan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam”[5]

Dan Syari’at telah memerintahkan kita agar kita memiliki ilmu, yaitu dengan belajar mendatangi majlis-majlis ilmu, bertanya kepada ahlinya jika kita tidak tau,
Sebagaimana firman Allah سبحانه وتعالى :
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Bertanyalah kepada ahli ilmu jika engkau tidak tahu”[6]
Allah سبحانه وتعالى  berfirman :
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ
Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”[7]
Sebuah pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban, karena tidak sama dan tidak akan pernah sama selama-lamanya antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak memiliki ilmu,
Rasulullah صلى الله عليه وسلم   bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim”[8]
Karena akibat seseorang tidak memiliki ilmu maka dia akan tersesat atau bisa juga menyesatkan orang lain, ketika ditanya tentang suatu perkara kemudian ia menjawab dengan tanpa ilmu,
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللهِ
“Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun[9]
Sebagaimana disebutkan pula dalam hadits.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم   bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari hamba-hambaNya sekaligus, tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mematikan para ulama’. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan seorang ‘alim-pun, orang-orang-pun mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Lalu para pemimpin itu ditanya, kemudian mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan orang lain
 Dan juga Rasulullah صلى الله عليه وسلم  mengisahkan:
كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنَ تَوْبَةٍ فَقَالَ لاَ. فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً
“Dulu sebelum kalian ada seseorang yang telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, dan dia pun ingin bertaubat kemudian bertanya siapa orang yang berilmu di muka bumi ini, maka dia ditunjukkan kepada seorang rahib (ahli ibadah) lalu dia pun mendatangi sang rahib tersebut dan bertanya bahwasanya dia telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa apakah masih diterima taubatnya, maka sang rahib pun menjawab tidak, kemudian sang rahib pun dibunuhnya sehingga genaplah ia membunuh seratus nyawa..”[10]
Untuk itu marilah kita berusaha untuk memiliki ilmu, dengan selalu menuntut ilmu sepanjang hayat belajar dan terus belajar sampai ajal menjemput, agar jangan sampai menjadi orang sesat apalagi menjadi penyesat, na’udzu billahi min dzalik, dan katakan tidak tau jika memang tidak tau, jangan pernah menutupi kebodohan dengan melakukan kebodohan yaitu berbicara tanpa ilmu karena akan berakibat buruk pada akhirnya.
Perhatikan nasehat Ibnu Mas’ud رضى الله عنهما :
 إذا سئل أحدكم عما لا يدري فليقل لا أعلم فإنه ثلث العلم
 “apabila salah seorang diantara kalian ditanya tentang sesuatu perkara yang tidak ia ketahui hendaknya ia berkata Aku Tidak Tau karena ia adalah sepertiga dari ilmu”[11]
Berkata pula Asy-Sya’biy رحمه الله تعالى   :
لا أدري نصف العلم
 “ucapan  Aku Tidak Tau itu setengah dari ilmu”[12]
Dan hendaknya yang harus selalu kita ingat bahwa segala apa yang kita perbuat akan dimintai tanggung jawabnya kelak pada hari pembalasan,
Sebagaimana firman Allah سبحانه وتعالى  yang sudah kita sebutkan diatas:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya [13]
Dan ancaman dalam ayat tersebut mencakup apa yang kita ucapkan,

Dengan demikian atas dasar apa yang saya paparkan diatas kembali saya ingatkan terutama diri saya pribadi jangan kita menjadi orang yang  Sok Tau, apalagi masalah Agama jangan pernah kita berbicara tanpa ilmu, kalaupun seandainya kita ditanya tentang suatu permasalahan maka berusahalah menjawab sesuai apa yang kita ketahui, dan jika memang tidak tau maka jangan malu untuk mengatakan “Saya Tidak Tau”, 
wallahu a’lamu bishshawab,
Mudah-mudahan apa yang saya tulis bermanfaat, yang benar datangnya dari Allah سبحانه وتعالى  dan yang salah adalah karena kebodohan saya dan dari syaitan, untuk itu jika pembaca menjumpai apa yang saya tulis ini ada kesalahan sudilah kiranya untuk menyampaikan kepada saya, terima kasih atas perhatiannya, syukran jazakumullahu khairan.

ditulis
di Cileungsi, pada tanggal 14 Rabi’ul Awal 1434 H, atau tanggal 26 Januari 2013 M
Akhukum fillah
Abu Hanifah ‘Alim bin Iryani Heri Atmaja bin Martadimulya bin Mangunharja bin Mangun Ali Mudi Al-Bantuliy



[1] Surat Al-A’raf Ayat 33
[2] Surat An-Nahl Ayat 116
[3] Surat Al-Isra’ Ayat 36
[4] Dinukil oleh syaikh al-Albani dalam kitab “at-Tawassul, ‘anwaa’uhu wa ahkaamuhu” (hal. 74).
[5] Majmu’ Fatawa, Syamilah, jilid 6, hal. 388
[6] Surat An-Nahl Ayat 43 & Surat Al-Anbiya’ Ayat 7
[7] Surat Az-Zumar Ayat 9
[8] Hadits Riwayat Ibnu Majah no:224, dan lainnya dari Anas bin Malik. Dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani
[9] Surat Al-Qashshash Ayat 50
[10] Hadits Riwayat Imam Muslim No. 7184
[11] أحاديث في ذم الكلام و أهله  3/506
[12] أحاديث في ذم الكلام و أهله  3/505
[13] Surat Al-Isra’ Ayat 36

2 tanggapan:

Blog Bandaro mengatakan...

Assalamualaikum Warahmatullahi Wa Baarakatuh,

Iya sih, apalagi tu di mesjid-mesjid kalo kasih ceramah suka ngarang aja jawaban nya.. coba aja di debat, pasti bakalan ngamuk tu.. hehehe

Mas Bantully, ini saya Ari. Saya ganti blog mas..

Baarakallhufyk

Abu Hanifah Alim mengatakan...

@mas Ari
wa'alikumussalamu warahmatullah wabarakatuh
ya begitullah..
hweheheheh
fika barakallah

Posting Komentar

dipersilahkan untuk memberikan tanggapan, dengan memperhatikan adab sopan santun, dan ma'af jika saya tidak menampilkan komentar anda yang hanya ingin mengajak berdebat (kecuali jika memang perlu saya tanggapi akan saya berikan tanggapan) terima kasih